Kamis, 28 Mei 2009

Panduan Praktis Jaga Kebersihan Area Kewanitaan

Sebagai properti penting pada wanita, tentunya miss V harus mendapat perawatan yang tepat dan seimbang. Padahal, karena letaknya yang berdekatan dengan anus, maka potensi terjadinya perpindahan bakteri sangat besar. Maka dari itu, perlunya menjaga kebersihan miss V dengan perawatan yang baik yang benar. Lalu bagaimana sih perawatan yang benar yang dibutuhkan miss V? Ikuti deh tips berikut ini..

1. Etika Membasuh Miss V Sehabis Buang Air Kecil atau Buang Air Besar
Cara membasuh area pribadi yang tepat adalah dengan menyiramkan air dari arah depan Miss V ke belakang anus dan bukan sebaliknya, lalu keringkan Miss V dengan handuk lembut atau tissu agar tidak basah.

2. Pilihlah Cairan Pembersih yang Tepat
Pemilihan cairan pembersih juga harus diperhatikan dengan memilih pembersih khusus area kewanitaan yang kadar pH-nya 3-4 (bisa dibaca pada kemasan botolnya). Dan yang terpenting hindarilah pembersih kewanitaan dengan kadar pH yang tinggi karena akan mengakibatkan kulit kelamin menjadi keriput dan mematikan bakteri baik yang mendiami miss V.

3. Melakukan Pemeriksaan Rutin Pada Wilayah Miss V.
Pemeriksaan rutin juga perlu dilakukan setiap saat agar bila terjadi infeksi dapat segera diketahui. Tanda-tanda bisa dideteksi bila terjadi perubahan warna di daerah sekitar Miss v (menjadi lebih merah) dan kerap kali disertai bau yang kurang sedap juga rasa gatal. Bila hal itu terjadi segeralah berkonsultasi pada ahli obstetri-ginekologi atau dokter ahli kulit dan kelamin.

4. Pemilihan Bahan Katun Untuk Celana Dalam
Memilih bahan pada celana dalam sebaiknya mengunakan bahan Katun karena katun dapat menyerap keringat dengan baik. Dan usahakan untuk menghindari bahan seperti nilon, karena bahan nilon memilki sifat panas yang dapat menimbulkan kelembapan yang berlebih dan bisa berakibat tumbuhnya jamur dan patogen di wilayah miss V.

5. Hindari Memakai Bedak Pada Vagina
Partikel halus yang terkadung pada bedak mudah sekali terselip didalam liang miss V dan bisa mengakibatkan timbulnya jamur di area sensitif itu.

6. Jangan Mengenakan Celana atau Jeans Yang Terlalu Ketat.
Keringat merupakan "santapan nikmat" bagi jamur di area kewanitaan, maka dari itu hindarilah memakai celana yang terlalu ketat. Jika memang ingin mengenakan celana ketat, usahakan untuk tidak memakainya seharian dan segeralah ganti pakaian yang longgar setibanya di rumah.

7. Penggunaan Pantyliner
Penggunaan pantyliner setiap hari sangat tidak dianjurkan karena selain dapat menimbulkan jamur, juga bisa menghalangi sirkulasi udara pada daerah kewanitaan. Bila terpaksa menggunakan, sebaiknya pantyliner diganti setiap habis buang air kecil atau buang air besar.

8. Pemilihan Pembalut yang Tepat
Dalam pemilihan pembalut, sebaiknya pilihlah pembalut yang berdaya serap tinggi dan permukaan yang lembut, agar dapat mengurangi iritasi pada daerah kulit Miss V. Dan yang terpenting hindari pembalut yang mengandung wangi-wangian karena bagi yang berkulit sensitif, zat kimia yang terkandung di dalamnya akan membuat Miss V jadi gatal dan iritasi.

Rabu, 06 Mei 2009

Flu Burung Lebih Berbahaya daridada Flu Babi

Mengenai Flu Babi/Swine Flu yang sangat berbahaya dan akhir-akhir ini meresahkan warga Mexico dan America, ternyata Menteri Kesehatan (Menkes)Republik Indonesia, Siti Fadilah Supari menyatakan bahwa virus flu burung (H5N1) jauh lebih berbahaya dari virus flu babi (H1N1) terutama untuk wilayah tropis seperti Indonesia. Hal ini diprediksi bahwa virus H1N1 tidak akan mampu hidup di daerah tropis karena biasanya virus ini hidup di daerah empat musim seprti di America dan sekitarnya.

''Masyarakat Indonesia tak perlu panik. Di Meksiko dan Amerika Serikat marak kasus flu babi saat musim dingin, di saat musim semi dan panas virus itu tak dapat bertahan,'' tegas Menkes kepada pers, Selasa (28/4).

Menurut beliau, virus H5N1 jauh lebih berbahaya dari H1N1 bisa terlihat dari data-data yang sudah ada. ''Jika diibaratkan, 100 penderita flu babi kemungkinan meninggal adalah 6 orang, sementara 100 penderita flu burung kemungkinan meninggal bisa mencapai 80 orang,'' jelas beliau.

Lebih detail lagi, Menkes menyatakan penyakit flu babi (swine flu) adalah penyakit influenza yang disebabkan oleh virus influenza A subtipe H1N1 yang dapat ditularkan melalui binatang, terutama babi. ''Secara umum penyakit ini mirip dengan influenza (Influenza Like Illness-ILL, red),'' cetusnya.

Dengan maraknya flu babi di Meksiko dan AS, kata Menkes Departemen Kesehatan (Depkes) telah melakukan langkah-langkah untuk waspada dan pencegahan agar tidak menyebar ke Indonesia. Di Indonesia, lanjut dia, jumlah babi sebenarnya tak terlalu banyak karena lebih dari 85 persen penduduk Indonesia adalah Muslim. ''Selain itu kami juga meminta stop impor daging babi,'' jelasnya.

Adapun langlah-langkah yang dilakukan Depkes, ujar Menkes, adalah memasang 10 thermal scanner untuk mendeteksi suhu badan di terminal kedatangan bandara internasional. Kemudian mengaktifkan kembali sekitar 80 sentinel untuk surveillance ILI dan Pneumonia, baik dalam bentuk klinik dan virologi. ''Kemudian menyediakan obat-obatan yang berhubungan dengan penanggulangan flu babi pada dasarnya adalah oseltamivir yang sama untuk H5N1,'' tegasnya.

Langkah-langkah lainnya, kata Menkes, adalah menyiapkan 100 rumah sakit rujukan yang sudah ada dengan kemampuan untuk menangani kasus flu babi. Lalu menyiapkan kemampuan laboratorium untuk pemeriksaan H1N1 di berbagai laboratorium flu burung yang sudah ada. Menyebarluaskan informasi ke masyarakat luas dan menyiagakan kesehatan melalui desa siaga. Kemudian simulasi penanggulangan pandemi influenza yang baru dilakukan pekan lalu di Makassar.

''Ini juga merupakan upaya nyata persiapan pemerintah menghadapi berbagai kemungkinan kejadian luar biasa atau public health emergency international concern (PHEIC) seperti flu babi,'' jelasnya.(republika onine)


Tugas Keamanan Jaringan

"Tugas Keamanan Jaringan Komputer"

Buatlah sebuah jaringan LAN untuk pemasangan Internet dengan spesifikasi sbb:

1. Modem (1 unit)
2. Router / Firewall (1 unit)
3. Router / Backbone (1 unit)
4. Switch(hub (3 unit, masing2 unit 8 port)
5. Client 4 unit (Dept. TI)
6. Client 4 unit (Dept. Keuangan)
7. Client 2 unit (Direksi & Staff)
8. Kabel UTP & Fiber Optic

Gambarkan jaringan yang terbaik menurut versi anda anda dengan spesifikasi bentuk jaringan topologi bus & Star

Jawab:
Dengan spesifikasi diatas, dapat dibuat sebuah jaringan sederhana sebagai berikut :






Gambar Topologi Jaringan Bus & Star

keterangan :



_________________ Kabel UTP / Fiber Optic


Nama : Resti Mahdia Paramulya
NIM : 1061110
Kelas : KA 11.E6.01

Selasa, 05 Mei 2009

Pengobatan Kanker

Pengobatan kanker

Ada beberapa pengobatan kanker payudara yang penerapannya banyak tergantung pada stadium klinik penyakit (Tjindarbumi, 1994), yaitu:

Mastektomi

Mastektomi adalah operasi pengangkatan payudara. Ada 3 jenis mastektomi (Hirshaut & Pressman, 1992):

  • Modified Radical Mastectomy, yaitu operasi pengangkatan seluruh payudara, jaringan payudara di tulang dada, tulang selangka dan tulang iga, serta benjolan di sekitar ketiak.
  • Total (Simple) Mastectomy, yaitu operasi pengangkatan seluruh payudara saja, tetapi bukan kelenjar di ketiak.
  • Radical Mastectomy, yaitu operasi pengangkatan sebagian dari payudara. Biasanya disebut lumpectomy, yaitu pengangkatan hanya pada jaringan yang mengandung sel kanker, bukan seluruh payudara. Operasi ini selalu diikuti dengan pemberian radioterapi. Biasanya lumpectomy direkomendasikan pada pasien yang besar tumornya kurang dari 2 cm dan letaknya di pinggir payudara.

Radiasi

Penyinaran/radiasi adalah proses penyinaran pada daerah yang terkena kanker dengan menggunakan sinar X dan sinar gamma yang bertujuan membunuh sel kanker yang masih tersisa di payudara setelah operasi (Denton, 1996). Efek pengobatan ini tubuh menjadi lemah, nafsu makan berkurang, warna kulit di sekitar payudara menjadi hitam, serta Hb dan leukosit cenderung menurun sebagai akibat dari radiasi.

Kemoterapi

Kemoterapi adalah proses pemberian obat-obatan anti kanker dalam bentuk pil cair atau kapsul atau melalui infus yang bertujuan membunuh sel kanker. Tidak hanya sel kanker pada payudara, tapi juga di seluruh tubuh (Denton, 1996). Efek dari kemoterapi adalah pasien mengalami mual dan muntah serta rambut rontok karena pengaruh obat-obatan yang diberikan pada saat kemoterapi.

Strategi pencegahan

Pada prinsipnya, strategi pencegahan dikelompokkan dalam tiga kelompok besar, yaitu pencegahan pada lingkungan, pada pejamu, dan milestone. Hampir setiap epidemiolog sepakat bahwa pencegahan yang paling efektif bagi kejadian penyakit tidak menular adalah promosi kesehatan dan deteksi dini. Begitu pula pada kanker payudara, pencegahan yang dilakukan antara lain berupa:

Pencegahan primer

Pencegahan primer pada kanker payudara merupakan salah satu bentuk promosi kesehatan karena dilakukan pada orang yang "sehat" melalui upaya menghindarkan diri dari keterpaparan pada berbagai faktor risiko dan melaksanakan pola hidup sehat.

Pencegahan sekunder

Pencegahan sekunder dilakukan terhadap individu yang memiliki risiko untuk terkena kanker payudara. Setiap wanita yang normal dan memiliki siklus haid normal merupakan populasi at risk dari kanker payudara. Pencegahan sekunder dilakukan dengan melakukan deteksi dini. Beberapa metode deteksi dini terus mengalami perkembangan. Skrining melalui mammografi diklaim memiliki akurasi 90% dari semua penderita kanker payudara, tetapi keterpaparan terus-menerus pada mammografi pada wanita yang sehat merupakan salah satu faktor risiko terjadinya kanker payudara. Karena itu, skrining dengan mammografi tetap dapat dilaksanakan dengan beberapa pertimbangan antara lain:

  • Wanita yang sudah mencapai usia 40 tahun dianjurkan melakukan cancer risk assessement survey.
  • Pada wanita dengan faktor risiko mendapat rujukan untuk dilakukan mammografi setiap tahun.
  • Wanita normal mendapat rujukan mammografi setiap 2 tahun sampai mencapai usia 50 tahun.

Foster dan Constanta menemukan bahwa kematian oleh kanker payudara lebih sedikit pada wanita yang melakukan pemeriksaan SADARI (Pemeriksaan Payudara Sendiri) dibandingkan yang tidak. Walaupun sensitivitas SADARI untuk mendeteksi kanker payudara hanya 26%, bila dikombinasikan dengan mammografi maka sensitivitas mendeteksi secara dini menjadi 75%.

Pencegahan tertier

Pencegahan tertier biasanya diarahkan pada individu yang telah positif menderita kanker payudara. Penanganan yang tepat penderita kanker payudara sesuai dengan stadiumnya akan dapat mengurangi kecatatan dan memperpanjang harapan hidup penderita. Pencegahan tertier ini penting untuk meningkatkan kualitas hidup penderita serta mencegah komplikasi penyakit dan meneruskan pengobatan. Tindakan pengobatan dapat berupa operasi walaupun tidak berpengaruh banyak terhadap ketahanan hidup penderita. Bila kanker telah jauh bermetastasis, dilakukan tindakan kemoterapi dengan sitostatika. Pada stadium tertentu, pengobatan diberikan hanya berupa simptomatik dan dianjurkan untuk mencari pengobatan alternatif.

Faktor-Faktor Penyebab Kanker Payudara

Faktor-faktor penyebab

Faktor Resiko

Menurut Moningkey dan KodimPenyebab spesifik kanker payudara masih belum diketahui, tetapi terdapat banyak faktor yang diperkirakan mempunyai pengaruh terhadap terjadinya kanker payudara diantaranya:

  1. Faktor reproduksi: Karakteristik reproduktif yang berhubungan dengan risiko terjadinya kanker payudara adalah nuliparitas, menarche pada umur muda, menopause pada umur lebih tua, dan kehamilan pertama pada umur tua. Risiko utama kanker payudara adalah bertambahnya umur. Diperkirakan, periode antara terjadinya haid pertama dengan umur saat kehamilan pertama merupakan window of initiation perkembangan kanker payudara. Secara anatomi dan fungsional, payudara akan mengalami atrofi dengan bertambahnya umur. Kurang dari 25% kanker payudara terjadi pada masa sebelum menopause sehingga diperkirakan awal terjadinya tumor terjadi jauh sebelum terjadinya perubahan klinis.
  2. Penggunaan hormon: Hormon eksogen berhubungan dengan terjadinya kanker payudara. Laporan dari Harvard School of Public Health menyatakan bahwa terdapat peningkatan kanker payudara yang bermakna pada para pengguna terapi estrogen replacement. Suatu metaanalisis menyatakan bahwa walaupun tidak terdapat risiko kanker payudara pada pengguna kontrasepsi oral, wanita yang menggunakan obat ini untuk waktu yang lama mempunyai risiko tinggi untuk mengalami kanker ini sebelum menopause.
  3. Penyakit fibrokistik: Pada wanita dengan adenosis, fibroadenoma, dan fibrosis, tidak ada peningkatan risiko terjadinya kanker payudara. Pada hiperplasis dan papiloma, risiko sedikit meningkat 1,5 sampai 2 kali. Sedangkan pada hiperplasia atipik, risiko meningkat hingga 5 kali.
  4. Obesitas: Terdapat hubungan yang positif antara berat badan dan bentuk tubuh dengan kanker payudara pada wanita pasca menopause. Variasi terhadap kekerapan kanker ini di negara-negara Barat dan bukan Barat serta perubahan kekerapan sesudah migrasi menunjukkan bahwa terdapat pengaruh diet terhadap terjadinya keganasan ini.
  5. Konsumsi lemak: Konsumsi lemak diperkirakan sebagai suatu faktor risiko terjadinya kanker payudara. Willet dkk., melakukan studi prospektif selama 8 tahun tentang konsumsi lemak dan serat dalam hubungannya dengan risiko kanker payudara pada wanita umur 34 sampai 59 tahun.
  6. Radiasi: Eksposur dengan radiasi ionisasi selama atau sesudah pubertas meningkatkan terjadinya risiko kanker payudara. Dari beberapa penelitian yang dilakukan disimpulkan bahwa risiko kanker radiasi berhubungan secara linier dengan dosis dan umur saat terjadinya eksposur.
  7. Riwayat keluarga dan faktor genetik: Riwayat keluarga merupakan komponen yang penting dalam riwayat penderita yang akan dilaksanakan skrining untuk kanker payudara. Terdapat peningkatan risiko keganasan ini pada wanita yang keluarganya menderita kanker payudara. Pada studi genetik ditemukan bahwa kanker payudara berhubungan dengan gen tertentu. Apabila terdapat BRCA 1, yaitu suatu gen suseptibilitas kanker payudara, probabilitas untuk terjadi kanker payudara sebesar 60% pada umur 50 tahun dan sebesar 85% pada umur 70 tahun.

Gejala Klinis Kanker Payudara

Gejala klinis

Gejala klinis kanker payudara dapat berupa:

Benjolan pada payudara

Umumnya berupa benjolan yang tidak nyeri pada payudara. Benjolan itu mula-mula kecil, makin lama makin besar, lalu melekat pada kulit atau menimbulkan perubahan pada kulit payudara atau pada puting susu.

Erosi atau eksema puting susu

Kulit atau puting susu tadi menjadi tertarik ke dalam (retraksi), berwarna merah muda atau kecoklat-coklatan sampai menjadi oedema hingga kulit kelihatan seperti kulit jeruk (peau d'orange), mengkerut, atau timbul borok (ulkus) pada payudara. Borok itu makin lama makin besar dan mendalam sehingga dapat menghancurkan seluruh payudara, sering berbau busuk, dan mudah berdarah. Ciri-ciri lainnya antara lain:

  • Pendarahan pada puting susu.
  • Rasa sakit atau nyeri pada umumnya baru timbul kalau tumor sudah besar, sudah timbul borok, atau kalau sudah ada metastase ke tulang-tulang.
  • Kemudian timbul pembesaran kelenjar getah bening di ketiak, bengkak (edema) pada lengan, dan penyebaran kanker ke seluruh tubuh

Kanker payudara lanjut sangat mudah dikenali dengan mengetahui kriteria operbilitas Heagensen sebagai berikut:

  • terdapat edema luas pada kulit payudara (lebih 1/3 luas kulit payudara);
  • adanya nodul satelit pada kulit payudara;
  • kanker payudara jenis mastitis karsinimatosa;
  • terdapat model parasternal;
  • terdapat nodul supraklavikula;
  • adanya edema lengan;
  • adanya metastase jauh;
  • serta terdapat dua dari tanda-tanda locally advanced, yaitu ulserasi kulit, edema kulit, kulit terfiksasi pada dinding toraks, kelenjar getah bening aksila berdiameter lebih 2,5 cm, dan kelenjar getah bening aksila melekat satu sama lain.

Kanker Serviks

button Berita Baru special for women

1 perempuan di dunia meninggal karena kanker serviks setiap 2 menit.
1 perempuan di Indonesia meninggal karena kanker serviks setiap 1 jam.
500 ribu perempuan di dunia didiagnosa menderita kanker serviks setiap tahun.
2,2 juta perempuan di dunia menderita kanker serviks.

Bukan angka yang sedikit....

Kanker serviks disebabkan oleh infeksi HPV (Human Papillomavirus) yang menetap.
Mayoritas infeksi HPV ditularkan melalui kontak kulit kelamin.
Butuh waktu 10-20 tahun sejak terjadinya infeksi HPV hingga berkembang menjadi kanker serviks.

Karenanya....

Semua perempuan tetaplah berisiko terkena kanker serviks.
Semua perempuan, di belahan dunia manapun, tak terkecuali ANDA!
Ancaman kanker serviks akan terus membayangi sepanjang hidup anda.

Kabar baiknya....

Kanker serviks dapat dicegah.
Saat ini telah ada vaksin sebagai tindakan pencegahan kanker serviks.
Lakukan pap smear berkala untuk mengetahui keadaan serviks anda.
Kanker serviks yang diketahui pada stadium dini dapat disembuhkan.

Wahai perempuan Indonesia....

Anda terlalu berharga untuk keluarga dan orang di sekitar anda.
Jaga kesehatan reproduksi anda.
Jangan sampai kanker serviks merenggut kebahagiaan anda.

Cegah kanker serviks sebelum terlambat!